Ketika Sang Kakek Menutup Matanya Terakhir Kali
March 15th, 2010 Under My Self | 42 CommentsKakek saya memang sudah lama sakit sampai pernah di rawat di rumah sakit walaupun akhirnya hanya di rawat di rumah saja atas keinginan beliau. Bukannya mendo’akan supaya cepat meninggal tapi dari tanda-tanda yang ada, keluarga menyimpulkan sepertinya memang umur beliau sudah tidak lama lagi.
Dan pada tanggal 16 Februari 2010 bertepatan dengan ulang tahun adik laki-laki saya, beberapa menit sebelum adzan maghrib berkumandang, beliaupun di jemput oleh sang maha pencipta. Satu hal yang sangat sesalkan dengan kepergian beliau adalah kenapa ketika sakaratul maut saya sedang tidak berada disisinya untuk menuntun beliau mengucapkan kalimat thoyyibah.

Ceritanya sore itu, saya ngebet benar ingin jalan-jalan padahal saya jarang banget kemana-mana kalo da sore. Tapi sore itu lain dari pada yang lain seolah-olah keinginan saya mau jalan-jalan harus terkabul padahal teman saya udah bilang lebih baik besok saja. Akhirnya dengan paksaan sore itu saya bersama anak-anak jalan ke kampung lain.
Ketika sampai di kampung lain, kamipun berhenti karena ada pertunjukan seperti debus di pinggir jalan selain tentunya ada yang bening-bening menarik hati. Anak-anak pada liatin pertunjukan debus semua, cuma saya sendiri tinggal diatas motor bareng bening-bening yang baru di kenal. Walaupun ngobrol biasa saja tapi di dalam hati yang paling dalam kok ada rasa tidak enak.
Saya ingin cepat balik ke rumah tapi gak enak ama anak-anak yang lagi nonton. Kira-kira kurang dari 10 menit mau maghrib, handphone saya berbunyi rupanya telp dari adik perempuan saya katanya ibu menyuruh saya supaya cepat pulang. Saya pun mengajak anak-anak untuk segera pulang karena ada perintah tertingi dari komandan untuk balik. Waktu itu saya masih belum ada pikiran aneh-aneh.
Kira-kira baru seperempat perjalanan balik, motor kami di stop ama anak-anak kampung lain yang masih satu cs-an, mereka mau nitip undangan pernikahan untuk orang-orang di kampung kami. Telp pun kembali berbunyi, kali ini dengan suara sedih dan histeris dari ibu saya bilang untuk segera balik, melihat gelegat yang kurang baik saya bersama anak2 pun langsung tancap gas.
Entah sampai kecepatan berapa, tanpa ampun saya pun langsung ngebut dari tempat stop terakhir sampai nyampai dirumah [kebetulan saya pakai motor teman yang sudah di modif abiz untuk ngetrack balapan], tapi apa yang saya dapat..??? baru sampai di pintu depan rumah, suara tangis sudah pecah di sekeliling rumah. Sayapun masuk ke dalam rumah dan mendapati jasad kakek saya sudah di tutup.
Hampir tak ada air mata sedikitpun yang keluar dari pelupuk mata saya, yang terbayangkan oleh saya hanya rasa penyesalan kenapa saya tidak bisa menemaninnya ketika sakaratul maut tiba..??? cukup sekali ketika nenek dari sebelah ayah saya meninggal saya tidak berada di sampingnya..??? kenapa hal semacam ini bisa terulang lagi.
Entahlah mungkin sudah suratan takdir. Saya tidak memaksa anda untuk berhenti sejenak menggerakkan mouse dan keyboard anda untuk ikut mendo’akan kakek saya, tapi jika anda seorang muslim, apa yang sebaiknya anda lakukan..??? Just My Opinion.



mandor tempe
saya mengucapkan Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un.
Turut berduka cita atas meninggalnya kakek. Semoga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
[Reply]
Aldy
Innalillahi Wainnalillahi Roji’un.
Rejeki, Maut dan Jodoh hanya Allah SWT yang tahu, kita ibarat wayang hanya menjalankan yang sudah ditentukan oleh Sang Dalang.
Deka…
Om dan Keluarga, mengucapkan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya, semoga arwah beliau mendapatkan tempat yang layak di Sisinya. Amin.
Untuk Deka, Janganlah dijadikan penyesalan yang berkepanjangan, karena semuanya sudah ditentukan oleh Allah SWT.
[Reply]
March 17th, 2010 at 1:15 am
Saya tidak menjadikannya penyesalan yang berkepanjangan Om, tapi kadang kala saya selalu teringat akan kebodohan saya dan itu yang membuat saya menyesal, sungguh sungguh menyesal. Jikalau saya bisa berharap kepada sang maha pecipta dengan kerendahan hati dari seorang makhluk manusia yang hina dina ini saya meminta supaya kejadian seperti ini jangan sampai terulang kembali di masa depan.
[Reply]
Aldy
Innalillahi Wainnalillahi Roji’un.
Ya Allah,
Semua hidup dan mati kami hanya Engkaulah yang tahu,
hanya kepada Mu kami berserah diri, hanya Kepada Mu Ya Allah pencipta semesta alam kami memanjatkan puji dan syukur,
Berikanlah tempat yang layak dan lapang kepada Kakek tercinta dari sahabat kami Deka Handayani, ampunilah segala kesalahan dan dosa Almarhum.
Hanya kepada Engkau Ya Allah, kami meminta dan dan berdo’a, hanya kepada Mu ya Rahhim kami memohon. Berikanlah kekuatan dan keteguhan kepada Sabahat kami Deka dan Keluarga besar yang di tinggalkan, Hanya Engkaulah Ya Allah yang Maha Mengetahui Segalanya. Amin….Amin….Amin Ya Rabbal Alamin.
[Reply]
fanz
Innalillah..
turut berduka cita bro
[Reply]
Mamah Aline
innalillahi wa inna ilaihi rojiuun… semoga kakek mendapatkan tempat yang layak disisiNya, mas deka dan diterima iman islamnya amien…
[Reply]
narno
inna lillahi wa inna ilaihi rajiun
meskipun sudah agak terlambat
[Reply]
darahbiroe
inna lillahi wa inna ilaihi rajiun
saya turut berduka cita atas meninggalnya
smoga dierima disiiNya
berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya
salam blogger
makasih
[Reply]
Den Hanafi
Inalilahi wa inailaihi rojiun..
Yang sabar y kang. istigfar.
Semoga kakek bang deka diterima amal ibadahnya dan diampuni segala dosanya.
Amiiin.
[Reply]
Den Hanafi
Tetap semangat kang..!!
[Reply]
ofaragilboy
saya jadi merinding pas lihat picnya di liang lahat, termenung, pasti kita semua akan mengalami hal itu.
semoga amal ibadahnya diterima disisiNya dan keluarga yang ditinggalkan mendapat kesabaran dan mengikhlaskannya. amin
[Reply]