Alangkah Lucunya
April 22nd, 2010 Under Artikel, Film | 111 CommentsKebelet pengen nonton di bioskop memang sudah saya rasakan sejak awal bulan ini, namun apa daya kondisi keuangan tidak memungkinkan. Disela-sela waktu lagi mengkhayal karangan bebas untuk menjawab ujian hari ini (22/04/2010), sebuah sms tiba-tiba menghampiri. Ow rupanya ada seorang teman (bening tentunya) yang ngajak ketemuan di BEC (Bandung Electronic Center).
Pucuk Di Cinta Ulampun Tiba, kebetulan banget nie. Dengan bermodal motor pinjeman, langsunglah tak samperin ke BEC nya. Setelah ngobrol panjang x lebar x tinggi di Food Court BEC dan tentunya dengan sedikit bujuk rayu durjana (halah), akhirnya teman saya itu bersedia diajak nonton dan bayarin.
Karena bioskop yang paling dekat cuma 21 di BIP (Bandung Indah Plaza) doang selain itu juga karena da malam (bahaya nie bawa anak gadis orang). Mau gak mau ya cuma kesana, walaupun saya tahu kualitas bioskop disana sungguh sangat mengecewakan hati saya yang mulia ini. Setelah saya liat-liat, paling film besutan Om Deddy Mizwar ini yang layak ditonton.

Alangkah Lucunya (negeri ini) secara singkat menceritakan seorang sarjana management (muluk) yang pontang-panting mencari kerjaan. Pertemuan dengan seorang pencopet (komet) membuatnya berpikir untuk memanagement para gerombolan pencopet. Dengan bagian 10% dari hasil copetan, muluk pun mulai memanagement dan mendidik para pencopet ini. Sinopsinya lengkapnya, bisa lihat disini.
Film ini dari awal sampai tengah memang menarik dan banyak kelucuannya, namun mulai dari tengah sampai ending saya merasa boring dan bete banget. Apalagi setelah melihat ending yang gak jelas. Kalo dinilai, saya katakan C Minus lah. Ciri khas film indonesia mungkin. Makanya dari itu kenapa saya malas nonton film Indonesia, kalo saja yang ngebesut bukan Om deddy atau Om Hanung. Udah malas banget nonton Film Indonesia.
Tapi pesan dari film sungguh sangat menarik, secara implisit film ini menyinggung lucunya negeri ini mentelantarkan fakir miskin dan anak-anak jalanan tanpa ada solusi nyata. Belum lagi ditambah korupsi yang meraja lela, padahal Indonesia kaya dengan sumber daya alam selain itu juga dalam konstitusi kita sudah diatur.
Undang-undang dasar pasal 34 ayat 1
Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara
Saya jadi berpikir, bisakah para fakir miskin dan anak-anak terlatar mengajukan tuntutan hukum kepada negara karena telah ditelantarkan..??? Sok atuh ada yang ahli hukum dan atau tata negara mungkin..??? Kalo saya mah mau belajar lagi, masih ada ujian. Just My Opinion
![]()



Duniaku
setuju..sekali kali negara juga harus dituntut hehehehehe
[Reply]
khamiL
ada aja siasatnya ya buat nonton, tapi saya jadi pengen lihat filmnya,,,
hehehh
[Reply]